Laman

Rabu, 24 Juli 2013

Lomba Menulis Cerpen “Mari Berbagi Mari Menginspirasi" untuk pelajar SMA/ SMK/ MA/ sederajat (DL: 21 Agustus 2013)


Komunitas Perdu Magelang bersama dengan Tim Jurnalistik SMA Negeri 1 Muntilan
mengadakan lomba cerpen "Mari Berbagi Mari Menginspirasi"
GRATISSS!!!  
setiap orang menjalani garis hidupnya masing-masing, sehingga dalam proses itulah kita menemukan ilmu dan pengalaman yang berbeda-beda. Agar menjadi insan yang bijaksana, kita perlu belajar dari pengalaman orang lain. Saling berbagi dan saling menginspirasi merupakan langkah yang tepat untuk mencapai kebijaksanaan hidup yang sempurna.
Berbagi inspirasi tidak harus masuk tivi, atau ceramah di mimbar-mimbar, dsb tetapi bisa dengan menulis yang inspiratif.  Itu hal termudah yang setiap orang bisa lakukan.
Jadi, tunggu apa lagi? Ayo tuliskan pengalamanmu menjadi cerpen yang inspiratif! Ikuti Lomba Menulis Cerpen ini! Raih hadiahnya! Dan pastikan karyamu masuk dua puluh lima karya cerpen terbaik yang akan dibukukan ...!

Lomba ini terbuka untuk seluruh siswa-siswi SMA/SMK/MA di seluruh pelosok Indonesia,mulai diadakan sejak 21 Juli hingga 21 Agustus 2013. Adapun syarat dan ketentuan pengiriman naskah cerpen sebagai berikut:
  • Tema lomba: Dunia remaja yang inspiratif
  • Setting cerita sekitar Kabupaten-kota Magelang
  • Jumlah halaman cerpen antara 4-8 halaman
  • Ukuran kertas A4/Quarto, font Times New Roman, size 12, spasi 1,5, margin top 3, left 3, bottom 3, right 3.
  • Disertakan data pribadi yang meliputi nama lengkap, asal sekolah, TTL, alamat rumah, nomor yang bisa dihubungi  dibawah naskah cerpen.
  • Disertakan soft foto size maksimal 100 Kb.
  • Dikirim via e-mail ke alamat perdu_komunitas@yahoo.com dalam bentuk attachment, berupa naskah cerpen, scan kartu pelajar, dan soft foto.
  • Setiap peserta hanya boleh mengirimkan 2 cerpen terbaiknya.
  • Cerpen belum pernah diikutkan pada lomba cerpen/tidak pernah diterbitkan di media cetak maupun online.
  • Kesesuaian naskah dengan tema lomba, tidak mengandung asusila, pornografi, serta tidak mengandung SARA.
  • Syarat penulisan  dan kelengkapan naskah menjadi factor penentu lolos tidaknya naskah cerpen seleksi pertama untuk dinilai oleh dewan juri.
  • Deadline pengiriman naskah tanggal 21 Agustus 2013.
  • 25 karya terbaik akan dibukukan
  • Pengumuman pemenang lomba pada tanggal 27 Oktober 2013
  • Event lomba ini GRATISSS!!!
  • Pemenang lomba:
Juara 1 : uang pembinaan senilai Rp 300.000,00 + sertifikat + 1 buku antologi 25 karya cerpen terbaik.
Juara 2 : uang pembinaan senilai Rp 200.000,00 + sertifikat + 1 buku antologi 25 karya cerpen terbaik.
Juara 3 : uang pembinaan senilai Rp 100.000,00 + sertifikat + 1 buku antologi 25 karya cerpen terbaik.

Jika ada pertanyaan silakan menghubungi:      
Puji    (087839296642)
Jilli   (081901094798)

Sumber : www.perdumenulis.blogspot.com


Mohon bantuannya untuk menyebarkan infonya ya... Terima kasih.

Minggu, 30 Juni 2013

Gerakan Wirausaha Membangun Negara




Menapaki tangga-tangga reformasi, Indonesia semakin banyak belajar. Mulai dari demokrasi, kebebasan pers hingga persoalan HAM. Meski begitu, banyak juga permasalahan pelik yang belum terpecahkan. Contohnya masyarakat yang konsumtif dan hedonis, pergaulan bebas tanpa batas, kemiskinan, pengangguran, hingga meningkatnya kriminalitas. Korupsi dilakukan tanpa malu lagi. Pertanda perjuangan reformasi yang dipelopori oleh elemen-elemen mahasiswa belum tuntas. Bangsa kita harus terus bangkit menghadapai tantangan tersebut!

Apalagi mahasiswa sebagai agen of change, diharapkan memberikan solusi terhadap problematika ini. Namun banyak sekali mahasiswa yang apatis, tidak peduli. Sementara yang mengaku berkesadaran sosial, bisanya cuma demo dan memacetkan jalanan. Kegiatan ekonomi tersendat karena arus distribusi barang tidak jalan. Dari mobilisasi masyarakat hingga stabilitas nasionalpun juga terganggu. Dalam demonstrasi biasanya juga terjangkit virus demoralisasi. Berkoar-koar, mengumpat, kata-kata kotor, dan tak sopan, keluar semua! Bahkan demonstran sering anarkhi; menyandera kendaraan, merusak fasilitas umum, hingga bentrok dengan aparat. Seakan sudah menjadi hobi. Memangnya, apa yang sudah kita dapatkan dari hobi tersebut? Efektifkah itu?

Nampaknya, konteks perjuangan di era reformasi perlu kita kaji kembali. Kesadaran sosial mahasiswa jelas bukan untuk merusak dan melawan Negara, namun bersama-sama membangunnya. Adapun wujud nyatanya yaitu dengan melalui gerakan wirausaha. Bisa dari sektor pertanian, peternakan, kuliner, mode, seni, tulis-menulis, internet marketing, elektro, industry kreatif, maupun dari hobi yang disenanginya. Mahasiswa sebenarnya memiliki modal yang luar biasa yaitu intelektual dan keberanian. Mereka terlatih untuk kerja cerdas dan belajar dari pengalaman. Mereka berani menghadapi resiko, tantangan, dan ketidakpastian. Jatuh, bangun, jatuh, dan bangun lagi, hingga sampai kesuksesan dalam bisnisnya. Itulah perjuangan yang sebenarnya.

Sehingga, mahasiswa diharapkan dapat terlibat secara langsung dalam pemberdayaan masyarakat. Mereka turun tangan mengentaskan bangsa dari belenggu kemiskinan, ikut menghabisi angka pengangguran, Tingkatan ekonomi dan taraf hidup masyarakat pun meningkat. Hingga kita terbebas dari neoimperialisme global. Dan dengan bangga, Indonesia berdiri sebagai Negara yang maju. Maka kesimpulannya, beranilah untuk memulai semua itu!

Oleh:   Ahmad Pujianto
Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga

Selasa, 14 Mei 2013

MURI Beri Penghargaan Kepada Perpustakaan UIN





Sistem perpustakaan menggunakan Radio Frekwensy Identivication (RFID) yang dikembangkan UPT. Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta,  dianugerahi perhargaan dari Musium Rekor Indonesia (MURI). Pemberian penghargaan akan dilaksanakan, Kamis, 6 Desember 2012, bersamaan dengan diselenggarakannya Seminar Nasional “Akses Perpustakaan dengan Cloud Computing  & Social Networking, bertempat di Gedung Convention Hall Kampus setempat.
Hal itu diampaikan Ketua Panitia Seminar Suharyanto di Redaksi kedaulatan Rakyat, Selasa (4/12). Didampingi Wakil Kepala Perpustakaan Widyastuti Kartini dan Sekretaris Panitia Sri Astuti, Haryanto menjelaskan, semua informasi yang sebelumnya hanya tersimpan diruangan, dengan sistem RFID akan disimpan dalam server. “Mengubah proses yang sebelumnya dilakukan sekitar 15 menit menjadi kuarang dari 1 menit,” kata Haryanto menerangkan keunggulan sistem RFID. “Semua peminjam buku juga tidak perlu bersentuhan langsung dengan orang, namun cukup lewat server,” ungkapnya.
Harapannya, sistem yang dipakai perpustakaan UIN ini nantinya bisa menjangkau diseluruh indonesia. Yogya yang telah menjadi trendsetter pustakawan memang sudah seharusnya tersentuh teknologi dan menjadi model perpustakaan masa sekarang.
Widyastuti Kartini mengatakan, pemateri seminar antara lain Dr. Ir. Ashwin Sasongko M.Sc. (Direktur Jenderal Aplikasi Informatika, Kementrian Kominfo), Putu Laxman Pendit, MA. Ph.D. (Dosen RMIT University Melbourne dan konsultan bidang informasi), Prof. Dr. Zainal A Hasibuan (Wakil Ketua Dewan TIK Nasional dan Guru Besar Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia), Agung Fatmanto, M.TI. Ph.D. (Kepala Pusat Komputer dan Sistem Informasi, Dosen Fakultas Sains dan Teknologi, UIN Sunan Kalijaga) dan Mr Arun (Software dari STLogitrack Singapura).

Selasa, 04 September 2012

pendidikan seks


Kurikulum Pendidikan Seks:
 Solusi Pergaulan Remaja Saat Ini


 Penulis: AHMAD PUJIANTO 



Sahabat, bagaimana kabar kini? Westernisasi mengusir kleluhuran tradisi. Masyarakat Indonesia lain wajah: sebabnya globalisasi diboncengi demoralisasi. Masyarakat kepradah, tak tahu arah. Dimanja produk-produk tipi, diajari anarki, budaya-budaya yang maunya serba instans. Merebaklah keangkuhan sosial dan pergaulan bebas yang kini menjadi tren bagi remaja saat ini.


Pergaulan bebas sebenarnya merupakan tema pembicaraan yang basi. Akan tetapi, saat ini fenomena tersebut semakin marak terjadi. Dampaknya pun menjadi-jadi. Manakala tidak dianggapnya nilai-niuli dan norma sosial yang berlaku di masyarakat, maka kehidupan freedom diagung-agungkan, bebas tanpa batas, seenaknya. Lontang-lantung ke mana-mana: mbleyer-mbleyer, trek-trekan, ugal-ugalan, balap liar, geng motor. Laki-laki perempuan tiada dinding batasannya. Hobinya keluar malam segala.



Kalau sudah menyinggung kehidupan malam, kedalamannya kaya akan simpangan. Adanya bukan pengajian, tapi konser musik, dangdut koplo-koploan, balap liar, pesta narkoba, sampai bermalam di diskotik segala. Robohlah batasan-batasan lintas jenis kelamin. Sehingga, kepleset sedikit saja akan bernama: ZINA! Setan kan punya cara tak hingga, remaja yang sedang ketekanan fase pancaroba sangat rentan terjerumus ke dalam seks bebas tersebut. Apalagi remaja kan birahinya sedang menggebu-gebu..


Sampai-sampai, berbagai telaah penelitian memampangkan kenyataan yang miris. Bahwa lebih dari 60 % remaja Jabodetabek, sebagai tolak ukur, sudah tidak perawan lagi (data BKKBN). Berarti, lebih dari setengah remaja di kota-kota besar tersebut, rentang usia 13-18 tahun sudah merasakan hubungan seks pranikah. Bahkan, yang lebih mencengagkan lagi, hasil penelitian Iip Wijayanto yang menyimpulkan bahwa 97% mahasiswi di sebuah kota pendidikan sudah tidak perawan. Astaghfirulloh, ya Alloh...


Sudah tidak mengherankan pula, sana-sini mendapati remaja sedang pacaran, kikuk-kikukan, mulut sama mulut, meraba-raba, dan seterusnya... Astaghfirulloh... Alhasil, kartini masa kini: habis gelap terbitlah malu! Kenapa malu? Karena hamil di luar nikah. Atau bahkan sudah habis malu, sebabnya sudah menjadi kebiasaan umum!


Sudah punah sokoguru bangsa, habislah generasi penerus, tiada yang diharap-harapkan, tidak ada perubahan. Kalau sudah begini realitanya,  mau di bawa kemana Indonesia?


Hendaknya orang tua memberikan pendidikan seks pada anak-anaknya sejak dini, mengenalkan organ intim, rasa malu, mahrom dan lawan jenis, mendidik supaya menjaga pandangan mata.  Akan tetapi, yang kemudian menjadi problematika yaitu bertabrakan  dengan kesibukan banyak orang tua yang lebih mementingkan pekerjaan mereka. Kebanyakan orang tua merasa cukup dengan memenuhi kepentingan perut anaknya semata. Sedangkan urusan pendidikan, seluruhnya dilimpahkan kepada pihak sekolah, pasrah sepasrah-pasrahnya.


Oleh karena itu, pendidikan seks harus dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan sekolah. Bukan menerangkan tentang how to do,  akan tetapi lebih kepada usaha preventif supaya terpelihara kesehatan reproduksi siswa. Kurang lebih kompetensi dasarnya mencangkup masalah reproduksi, proses kelahiran, KB, perilaku menyimpang, kejahatan seks, perlindungan hukum. Bisa berdiri menjadi bidang studi sendiri atau  terkait bidang studi agama, olahraga, biologi, sosiologi, antropologi, dan BK (Nailul Umam Wibowo: 2004). Juga bisa dimasukkan di kegiatan ekstrakurikuler pramuka, olahraga, pencak silat, dan sebagainya.


Harapannya, anak dengan tegas mau menolak pergaulan bebas dan seks bebas. Dengan begitu berarti generasi muda akan  steril dari bahaya westernisasi. Generasi muda menjadi generasi yang sehat lahir dan batin. Membawa hari baru: harapan baru untuk Indonesia. MERDEKA! Allohu akbar!








REFERENSI:

Minggu, 06 November 2011

Tidak Cukup Jika Hanya Padepokan Seni Bedaya!


Tidak Cukup Jika Hanya Padepokan Seni Bedaya!
 Oleh: Aros Djoangkoe


Kita mempunyai wayang sebagai hasil karya bangsa. Wayang merupakan budaya warisan yang murni dari nenek moyang pendahulu kita. Jauh sebelum masuknya Agama Hindu dan Budha ke Nusantara, nenek moyang kita telah berhasil menciptakan wayang. Pada masa awal, wayang tersebut digunakan untuk mengundang roh-roh halus. Tetapi dalam perkembangannya, setelah masuknya Agama Hindu dan Budha, dunia pewayangan diisi dengan cerita-cerita dari India; semacam Ramayana, Mahabarata, dll. Kemudian, budaya wayang tersebut juga digunakan oleh Sunan Kalijaga untuk berdakwah. Beliau tidak lain menggunakan wayang untuk  menyebarkan agama islam sampai ke Tanah Jawa. Susah payah beliau dalam nguri-urinya. Tidak mengherankan jika sampai sekarang ini, telah muncul berbagai kreasi wayang baik perwujudan fisiknya,  maupun isi cerita yang hendak disampaikan. Diantaranya ada wayang kulit (wayang purwa), wayang kertas, wayang golek, wayang beber, wayang wong, dll. Menurut isi ceritanya, ada wayang wahyu, wayang perjuangan, wayang populer dengan tokoh yang lebih bebas, dll.

            Seperti yang kita ketahui, bahwa sejalan dengan modernisasi, menyebabkan hal-hal yang berbau tradisional semakin ditinggalkan. Bahkan muncul berbagai anggapan negatif yang dilahirkan dari benak masyarakat terhadap keberadaan budaya tradisional tadi. Ada yang mengatakan budaya tradisional itu tidak mutu, buang-buang waktu, dan ketinggalan jaman.  Ada yang mengatakannyandeso’ (katrok dalam bahasa kerennya). Kurangnya penghargaan terhadap budaya tradisional seperti di atas tadi menjadikan  budaya tradisional semakin dijauhi dan ditinggal pergi oleh masyarakat, hingga budaya tradisional benar-benar punah.Kepunahan budaya tradisional ujung-ujungnya akan sampai pada hilangnya jati diri bangsa itu sendiri.

             Dalam konteks yang lebih sempit, budaya wayang juga terkena imbasnya. Tidak mengherankan jika budaya wayang kini berada di ujung tanduk. Tidak membutuhkan waktu yang lama bagi budaya wayang untuk menghilang dari eksistensinya. Padahal wayang kaya akan makna, baik secara lahir maupun batin. Dipandang dari segi lahir utamanya berkaitan dengan seni. Dari segi batin memuat filsafat (jawa) yang terkandung di dalamnya.

            :Sampai bangsa asing terkagum-kagum. Ada pula bangsa lain yang hendak mengklaimnya.


#          #          #


Jauh dari keramaian masyarakat yang sibuk dengan segala aktivitas, di kaki Gunung Merapi, tepatnya di Desa Tutup Ngisor, Kec. Dukun, Kab. Magelang, Jawa Tengah, di sana telah berdiri satu padepokan seni untuk memelihara kelanggengan budaya wayang. Kira-kira 7 km dari puncak Merapi. Padepokan tersebut bernama  Padepokan Seni Bedaya. Tentu saja tidak banyak yang mengetahui keberadaannya. Hal tersebut disebabkan lokasi padepokan seni tersebut memang terisolir, jauh dari keramaian
.
Dari Terminal Talun, Kec. Dukun, tiada angkutan umum yang dapat mengantarkan kita sampai ke sana. Kita harus berjalan kaki kira-kira sejauh 6 km ke utara melewati persawahan dan desa-desa. Cara lainnya yaitu dengan menaiki angkutan umum dari Terminal Prayitno, Kec. Muntilan sampai turun di Desa Sumber. Baru kemudian kita jalan kaki ke arah barat. Atau sebaiknya kita menggunakan kendaraan pribadi.

Sepanjang perjalanan disuguhi pemandangan alam yang menakjubkan. Sawah-sawah terbentang luas. Pohon-pohon besar juga masih mudah untuk ditemukan. Panorama hijau tersebut digelar sampai ujung horison. Ditambah dengan pemandangan Gunung Merapi dan Gunung Merbabu yang menjulang tinggi, aduhai.

Yang lebih penting lagi, masyarakat yang ada di sana ramah sekaligus terbuka. Tanyalah kepada mereka jika tersesat, pasti akan dibantunya. Dasarnya, memang orang-orang desa baik semua.

 Akan sampailah kita ke gapura Padepokan Seni Bedaya yang sederhana bertulis huruf jawa di kiri jalan. Walau area tidak begitu luas, bangunan-bangunan di sana dapat tertata rapi mirip dengan bangunan pada jaman dahulu. Sebut saja mirip seperti keraton. Di belakangnya ada makam pendiri Padepokan Seni Bedaya yang dibangun mewah.

Perlu diketahui juga, kebanyakan penghuni padepokan tersebut menganut kejawen, sama dengan agama orang jawa jaman dulu.Walau begitu, mereka dapat hidup berdampingan dengan masyarakaat beragama lain (Islam). Hal itu terbukti dengan adanya masjid yang nyaris masuk area padepokan.

Alhamdulillah tuan rumahnya juga ramah dan terbuka. Oleh karena itu, kita dapat memasuki padepokan dan bersosialisasi secara mudah dan nyaman, baik kepada penghuni padepokan ataupun warga sekitar.

Seperti yang dikatakan Sanggrikan (70-an tahun), Mantan Kepala Padepokan, bahwa padepokan tersaebut telah berdiri sejak tahun 1939 dan masih dapat bertahan sampai sekarang ini. Kepengurusannya dikelola secara turun temurun walau masih sederhana. Saat ini, kepala padepokan Seni Bedaya dipegang oleh adik beliau sendiri, Sitras Anjilin. Ketika saya berkunjung ke sana untuk melakukan wawancara, malangnya Pak Sitras sedang tidak ada di padepokan.

 Masalah timbul karena kurangnya kesadaran dan partisipasi masyarakat menyebabkan anggota atau murid yang belajar di sana sebagian besar ada dari pihak keluarga pendiri sendiri, meski terbuka untuk umum, secara kekeluargaan pula. Mereka biasanya mengadakan latihan pada Hari Rabu dan Minggu.

            Adapun wayang yang mereka gelar yaitu khusus wayang wong. (Kalau ada kesenian lain maka tidak lain adalah jathilan.)Para murid di padepokan ini terampil sekali mengadakan pagelaran wayang. Anak-anak kecilpun yang baru menginjak sekolah SD s.d. SMP sudah pandai memainkan peran. Ada Slamet, Shinta, Bella, dll. Sedangkan dalam wayang bocah, yang lebih dewasa biasanya menjadi niaga (orang yang menabuh perangkat gamelan) dan sinden (penyanyi). Tidak mengherankan jika mereka mampu menyabet berbagai prestasi dan mengadakan pagelaran wayang di berbagai daerah, seperti di Jakarta, Surabaya, Bandung, Malang, dan lain-lain.


#          #          #


“Padepokan seni ini diadakan dengan maksud untuk melestarikan wayang yang hampir punah supaya tetap kestari sepanjang masa, ucap Sanggrikan lagi dengan Bahasa Jawanya sebelum kami mengakhiri wawancara. Beliau sangat berharap budaya wayang selalu ada untuk selamanya.

            Walau begitu, jelas tidak cukup jika hanya Padepokan Seni Bedaya saja yang turun tangan. Butuh kita para generasi bangsa untuk ikut berpartisipasi dalam pelestarian budaya wayang. Sudah waktunya pula kita bangga terhadap budaya wayang. Harusnya, kita tidak boleh malu lagi terhadap produk negeri sendiri, malah harus bangga. Jadi, kini mari kita bersama bangkit, serentak! Jangan sampai lagi budaya kita diklaim oleh bangsa lain!
           
SALAM BUDAYA!!!

Meninggalnya lumpang dan Kenteng, Oleh Aros Djoangkoe


BAB I. PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Benar apa yang dinyatakan Koenjaraningrat, bahwa kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia itu. Tambahnya, kebudayaan tersebut didapat dari proses pembelajaran.
Awal mulanya memang kebudayaan bersifat abstrak, sebab berada di alam pikiran manusia saja, yaitu berupa ide, gagasan, norma, nilai, peraturan, dan lain-lain. Kemudian, jika diwujudkan akan menghasilkan sesuatu yang bersifat konkrit, tidak lain berupa perilaku (aktivitas) dan benda-benda hasil karya manusia (artefak).
Sedangkan dampak dari pembelajaran adalah dilahirkannya perubahan. Sejarah pun sudah mencatat, bahwa jauh sebelum kita lahir, nenek moyang sudah pandai memanfaatkan apa yang ada di alam untuk membuat artefak. Dari batu, mereka mampu menciptakan kapak perimbas, kapak genggam, kapak persegi, kapak lonjong, alat-alat serpih, punden berundak,waruga, sarkofagus,  menhir,  dolmen, dan lain-lain. Zaman batu tersebut berlangsng lama sekali sampai diklasifikasikan menjadi 4 kelompok: paleozoikum, neozoikum, mesozoikum, dan megalitikum. Baru kemudian masyarakat mengenal logam, maka ada nekara, moko, bejana, perhiasan, dan lain-lain. Tambah lagi dengan menyusulnya bangunan-bangunan candi, masjid, dan rumah yang megah. Apalagi di zaman sekarang ini, semua serba modern. Teknologipun berkembang tanpa terkendali. Hal di atas menunjukkan kalau kebudayaan memang bersifat dinamis.
Oleh karena itu, bolehlah kalau kita menyimpulkan bahwa arus kebudayaan masyarakat  terus saja melangkah maju dari waktu ke waktu. Masyarakat cenderung tidak puas untuk selalu membuat dan memperbarui benda-benda sebagai perlengkapan hidupnya, tidak lain agar kebutuhan masyarakat itu terpenuhi dengan lebih mudah.
Sekarang, hendaknya mari kita menengok kembali masa-masa sekitar sepuluh tahun terakhir ini. Waktu itu kehidupan masyarakat juga masih sangat sederhana, di masyarakat desa utamanya. Tidak seperti sekarang, dulu di dapur (kebanyakan) belum ada blinder, magic jar, rice cooker, oven, teko lisrik, kompor gas, dan lain-lain. Urusan masak-memasak tersebut tidak lain adalah urusan perut, sehingga sangatlah penting dan mendasar. Pengerjaannya pun juga masih dilakukan dengan cara yang sederhana pula.
Walau bagaimanapun, lagi-lagi sejarah tetap selalu mencatat segala kisah yang sudah terjadi mengiringi kelahiran waktu. Faktanya pernah ada lumpang dan kenteng yang menopang urusan paling mendasar tadi, yaitu berkaitan dalam penyediaan bahan makanan. Kedua jenis benda warisan zaman megalitikum tersebut memang sudah lama sekali erat dengan kehidupan masyarakat. Tetapi, lihatlah di zaman sekarang ini, dengan  mudahnya lumpang dan kenteng tidak diketahui lagi bagaimana kabarnya.  Karena itulah harusnya lumpang dan kenteng sudah bisa disebut sebagai benda peninggalan budaya.
Kita pun sadar dan mengakui bahwa lumpang dan kenteng memang sudah tidak relevan lagi dengan zaman sekarang dan keberadaannyapun tidak dibutuhkan lagi. Tetapi, dibalik semua itu, terkandung kehidupan masyarakat di masa lalu. Setidaknya, kita dapat membayangkan apa yang dulu masyarakat lakukan terhadap kedua jenis benda itu, berikut corak kehidupan yang menyertainya dan bagaimana manusia pada waktu itu dapat beradaptasi dengan lingkungannya.  Erat kaitannya dalam hubungannya mempelajari perubahan/pergeseran budaya (yang terjadi baru-baru ini), lumpang dan kenteng sangatlah berharga. Keberadaannya nyata mampu menyumbangkan ajaran (pengetahuan) akan jalannya peradaban umat manusia.
Di samping itu pun, kejadian perihal ditinggalkannya lumpang dan kenteng ini termasuk masih berbau kekinian. Pasalnya, kejadian ini masih segar karena umurnya yang masih muda, yaitu dalam rentang waktu sekitar sepuluh tahun terakhir ini. (Seharusnya masyarakat memberikan perhatian yang lebih terhadapnya.)
Di daerah peneliti sendiri (Kab. Magelang, Jawa Tengah) dikelilingi oleh banyak candi, seperti Candi Borobudur, Candi Mendut, Candi Pawon, Candi Ngawen, Candi Aso, (situs) Candi Mantingan, dan lain-lain. Apalagi tanah  Jawa dulu memang banyak sekali kerajaan-kerajaan yang berdiri di sana. Hal itu menunjukkan jenis kebudayaan pusat, sehingga layak untuk dijadikan tolak ukur. Lalu, mengapa di  Museum Mahakarmawibangga,Candi Borobudur (yang sudah berstandar internasional) itu tidak dapat ditemukan artefak lumpang dan kenteng?(Catatan lapangan, 17 April 2011.)
Tidak kalah mirisnya lagi, sulit sekali menemukan peneliti lain yang mengekpos seputar ditinggalkannya lumpang dan kenteng. Hal tersebut kemudian berdampak pada ketersediaan literatur penelitian yang sangat terbatas.
Berangkat dari semua itulah, peneliti akhirnya memberanikan diri untuk memulai melakukan penelitian dan mengangkat fenomena kebudayaan ini, kemudian menuliskannya menjadi karya tulis ilmiah dengan judul ................ Semoga bermanfaat dan dapat dikembangkan lebih lanjut.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa itu lumpang? Apa itu kenteng?
2.      Bagaimana perilaku masyarakat sekarang ini terhadap lumpang dan kenteng?
3.      Bagaimana lumpang dan kenteng bisa di tinggalkan oleh masyarakat?

C.    Tujuan Penelitian
1.      Menjelaskan apa itu lumpang dan kenteng.
2.      Menjelaskan bagaimana masyarakat sekarang ini menanggapi lumpang dan kenteng.
3.      Menjelaskan bagaimana lumpang dan kenteng bisa ditinggalkan masyarakat.

D.    Manfaat Penelitian
1.      Bagi pemerintah terkait           : agar lekas mengeluarkan kebijakan untuk menyelamatkan
                                                 keberadaan lumpang dan kenteng.
2.      Bagi masyarakat luas              : agar lekas menghargai dan merawat benda peninggalan
 budaya, lumpang dan kenteng utamanya.









BAB II. KAJIAN TEORI

A.   Lumpang
Lumpang merupakan salah satu peninggalan budaya zaman batu, tepatnya pada zaman megalitikum. Ciri-ciri zaman megalitikum sendiri yaitu digunakannya batu-batu besar untuk berbagai peralatan hidup. s
tumbukan
padi; lumpang
kenth�ng : lumpang
batu besar


Keadaan di desa tempat melakukan penelitianPenelitian di lakukan di Dusun Soko I, Soko II, Curah I, Curah II, dan Curah III (Desa Sokorini), dan Desa Drojogan. Secara umum, kedua desa tersebut sama-sama berada di Kec. Muntilan, Kab. Magelang, Jawa Tengah. re

Meskipun tidak melalui penelitian arkeologis dapat kita ketahui bahwa diberbagai tempat di Mandailing terdapat berbagai peninggalan zaman pra-sejarah. Sebagai contoh, ditengah hutan yang tidak jauh letaknya dari desa Runding di sebarang sungai Batang Gadis, terdapat penginggalan zaman pra-sejarah berupa lumpang-lumpang batu berukuran besar. Karena lumpang-lumpang batu tersebut berasal dari masa megalithicum (masa kebudayaan batu besar di zaman pra-sejarah) .

yakni digunakan untuk menemumbuk padi atau biji-bijian (jagung, kedelai, sorgum, dan sebagainya).

Survei yang dilaksanakan oleh tim penelitian Balai Arkeologi Medan pada tahun 2002 juga menemukan lumpang-lumpang yang berhias seperti adanya lubang-lubang kecil yang teratur dan pahatan-pahatan di bagian luarnya.
Mengutip dari karya tulis para peneliti Balai Arkeologi Medan, bahwa tinggalan berupa lumpang di ketiga ceruk itu merupakan salah satu unsur budaya megalitik karena di beberapa tempat lain di Indonesia ditemukan pada situs-situs pemujaan maupun penguburan, sehingga keberadaannya sering dikaitkan dengan upacara-upacara yang dilaksanakan di situs itu. Misalnya yang terdapat di Salakdatar dan Tugugede, Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, serta Desa Sakkal, Kecamatan Simamindo, Pulau Samosir, Provinsi Sumatera Utara (Sukendar,1977:9 ; Handini,1996:37). Selain itu juga disebutkan bahwa ada kaitan antara batu dakon dengan upacara kematian, karena sering ditemukan di sekitar bangunan megalitik yang merupakan kuburan (Teguh Asmar dalam Sumijati,1980:105).

BAB III. METODELOGI PENELITIAN

A.    Setting Penelitian
Penelitian ini dilakukan berbagai tempat, diantaranya sebagai berikut:
1.      Dusun Soko I, Soko II, Curah I, Curah II, dan Curah III
(Desa Sokorini, Kec. Muntilan, kab. Magelang, Jawa Tengah)
2.      Desa Sokorini, Kec. Muntilan, kab. Magelang, Jawa Tengah
3.      Museum Mahakarmawibangga, Candi Borobudur
4.      Perpustakaan Daerah Kec. Muntilan, kab. Magelang, Jawa Tengah
5.      Perpustakaan SMA N 1 Muntilan
Sedangkan rentang waktu pelaksanaannya yaitu antara tanggal 16 April-24 April 2011

B.     Subjek dan Objek Penelitian
Dalam hal ini, subjek penelitian yaitu masyarakat di desa tempat melakukan penelitian, baik yang memiliki lumpang dan kenteng, maupun yang tidak memilikinya.
Untuk objeknya, tidak lain adalah lumpang dan kenteng yang berada di desa tempat melakukan penelitian itu sendiri.

C.    Metode Penelitian
Dalam usahanya untuk mendapatkan data-data, di sini peneliti menggunakan 3 cara, diantaranya:
1.        Tinjauan Pustaka, yaitu dengan mencari dan menelaah literatur yang ada kaitannya dengan lumpang dan kenteng. Literatur sendiri didapat via internet dan dari buku-buku di perpustakaan.
2.         Wawancara, yaitu dengan melakukan serangkaian tanya jawab kepada masyarakat di desa tempat melakukan penelitian, baik yang memiliki lumpang dan kenteng, maupun yang tidak memilikinya.
3.        Observasi, yaitu dengan terjun langsung di desa tempat melakukan penelitian. Di sana terlebih dahulu peneliti berkeliling dan bertanya-tanya untuk menemukan lumpang dan kenteng. Setelah itu, baru kemudian mengamati, meneliti, dan mendokumentasinya (dalam bentuk foto).

D.    Instrumen Penelitian
Adapun segala peralatan yang digunakan untuk penelitian ini yaitu:
1.      Buku catatan dan bolpoin
2.      Kamera (HP)
3.      Arit dan bendo
4.      Cangkul dan linggis
5.      Pengungkit


BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A.    Hasil Penelitian
1.      Awal Mula Peneliti Berkenalan dengan Lumpang dan Kenteng
Sebenarnya, awal mula peneliti berkenalan dengan lumpang dan kenteng yaitu dari pengalaman tidak disengaja. Ketika itu selepas Sholat Isya’, di teras masjid sedang ada perbincangan yang agaknya berbau klenik. Sepertinya para jemaah sedang berbincang mengenai sebuah kenteng yang sudah tidak terpakai lagi, tetapi sangatlah populer. Pasalnya, masyarakat setempat menyakralkan kenteng tersebut. Konon khusus kenteng yang satu ini dulu biasa digunakan untuk memandikan anak yang lumpuh agar cepat bisa berjalan normal, seperti anak seusianya. Hal itu tentu tidak ada ilmiahnya sedikitpun. Lalu, perbincangan terus mengalir sampai mengenai Pasar Kramat, pasar yang beda dengan pasar tradisional lainnya. Di sana kiranya sebagai tempat mengobati penyakit dengan jalur perdukunan juga. Maka, peneliti merasa tertarik dan buru-buru meluruskan perbincangan tersebut. Dari situlah akhirnya peneliti menjadi tahu banyak informasi mengenai apa itu kenteng, gunanya, tempat-tempat di mana kenteng lain dapat ditemukan, sampai informasi mengenai lumpang juga. (Ternyata jamaah masjid dengan komposisi orang tua itu masih mengetahui betul seputar lumpang dan kenteng.)
Peneliti sendiri kemudian merasa diingatkan akan masa kecilnya kira-kira saat masih berumur 5 tahun. Ketika itu di dalam rumah kakeknya biasa ada lumpang dan di dalamnya sering ada makanan, atau sekedar bumbu. (Peneliti biasa mencicipi makanan tersebut tanpa sepengetahuan kakek dan neneknya.) Biasa juga peneliti membantu memindahkan lumpang tersebut dengan cara digelindingkan. Memang dulu hampir setiap rumah memiliki lumpang. Tetapi itu sudah lama sekali yaitu sekitar sepuluh tahun yang lalu. Maka penelitian pertama dilakukan di rumah kakek di Dusun Soko II dan Curah III. Ternyata lumpang sudah terpendam dalam sekali di tanah samping rumah.
Kalau perihal kenteng, peneliti malah baru mendengar pertama kali dari perbincangan jemaah masjid tadi, artinya kenteng lebih dulu ditinggalkan daripada lumpang.

2.      Penelitian di Dusun Soko II
Di Dusun Soko II tersebut, ternyata lumpang masih bisa ditemukan dengan jumlah yang lumayan banyak, yaitu ada 7 buah, sedangkan untuk  jumlah kenteng hanya ada 2 buah. Meski begitu,  ukuran kenteng yang satunya pun lebih kecil daripada umumnya.
Memang kebanyakan lumpeng ditemukan terpendam di sekitar rumah. Ada yang sengaja dipendam oleh pemiliknya karena menurut mereka,  jika benda tersebut ditaruh di dalam rumah maupun di halaman rumah, itu hanya akan membuat kotor dan atau memenuhi ruangannya semata. Ada juga yang terpendam karena proses alamiah. Proses ini berawal dari sifat masa bodoh masyarakat yang membiarkannya tergeletak di sembarang tempat (di luar rumah). Terlebih sewaktu musim hujan, lumpang dan kenteng akan lebih mudah terpendam.
Keadaan-keadaan lain yang ditimpakan pada lumpang seperti ditempatkannya di emperan rumah, dijadikannya sebagai tempat pembuangan sampah, tadah hujan, tambahan pondasi rumah, dan ada yang digeletakkan bersama batu-batu biasa. Dari sana, kita akan menyadari bahwa kebanyakan  masyarakat tidak merawatnya.
Sedangkan mengenai kenteng dengan jumlahnya yang sedikit itu, menurut keterangan banyak orang, dulu pernah ada pemborong yang berkeliling untuk membeli kenteng tersebut. Pemborong itu tidak lain adalah tukang batu. Logikanya, tukang batu pasti memperlakukan kenteng tersebut untuk diolah menjadi benda dengan jenis yang  lain. Kebanyakan produk hasilnya yaitu untuk kebutuhan seni. Maka, benda tersebut tidak bisa kita sebut sebagai kenteng lagi. Habislah riwayat kenteng-kenteng di desa.
Malah ketika peneliti mewawancarai masyarakat desa, tidak sedikit dari mereka yang kemudian menawarkan lumpangnya jika saja peneliti hendak membelinya. Mereka sudah antusias sekali mengajukan harga. Memang yang dipentingkan masyarakat hanyalah uang (materi), tanpa mempedulikan nilai budaya yang ada; begitulah masyarakat kita.

3.      Penelitian di Dusun Curah III
Keadaan yang sama juga terjadi di Dusun Curah III, bahwa  jumlah lumpang yang ada lebih banyak perbandingannya daripada jumlah kenteng. Keadaan lumpang sama-sama memprihatinkannya. Bahkan di dusun ini hanya bisa ditemukan 1 kenteng saja. (Itupun kenteng milik kakek peneliti sendiri.) Keadaan benda ini sangat parah, yaitu terpendam dalam di tanah dan nampak bagian atasnya ditumbuhi banyak lumut kerak.
Pengakuan Siti (32tahun), salah seorang warga Desa Curah III, sama halnya dengan apa yang dinyatakan orang-orang yang diwawancarai sebelumnya, yaitu membenarkan tentang adanya pemborong (tukang batu) yang membeli kenteng-kenteng dii desa. Ia menambahkan kalau masyarakat desa tanpa berpikir panjang segera melepaskan kenteng-kentengnya dengan harga Rp. 25.000 ,00– Rp. 30.000,00.
Yang perlu digarisbawahi penelitian di tempat ini, bahwa terlepas dari itu semua, ternyata masih ada juga satu warga Desa Curah III yang masih mau memanfaatkan lumpang. Namanya Rosadah (37tahun). Lumpang sehari-hari digunakannya untuk meproduksi kerepek(semacam kerupuk lokal yang terbuat dari beras/nasi). Alasan dia menggunakan lumpang tersebut yaitu karena dia belum memiliki peralatan khusus untuk menjalankan usaha sambilannya. Mau tidak mau dia harus melembutkan nasi sebagai bahan pembuatan kerepek dengan lumpang tersebut. Ketika ditanya mengenai nilai budaya yang terkandung di dalamnya, jawabannya dia malah tidak terpikirkan mengenai hal itu.

4.      Penelitian di Dusun Curah II
Sebelumnya, peneliti sempat lama bertanya-tanya mengenai posisi kenteng yang ada di dusun Curah II, akhirnya ditemukan juga di suatu kebun yang terbengkelai. Di sampingnya ada kandang ternak. Di situlah tempat terpendamnya kenteng dengan keadaan terlentang  (terbuka). Hal itu membuatnya tergenang air ketika musim hujan dan diteruskan sampai musim kemarau. Tidak ada satupun anggota masyarakat yang berpikir untuk membersihkan(menguras)nya. Genangan air tersebut berpeluang mengundang nyamuk untuk bertelur, mengingat bahwa warnanya sangat keruh kekuning-kuningan dan tempatnya pun berada di samping kandang ternak. Sungguh miris melihat kenyataan bahwa benda peninggalan budaya tadi hanya dapat menyumbangkan sumber penyakit bagi masyarakat setempat.
 
5.      Asumsi Masyarakat
Satu hal lagi yang sempat peneliti catat yaitu perihal komentar masyarakat yang ditujukan kepada  peneliti sendiri ketika berkeliling melakukan penelitian. Banyak yang menertawakan peneliti. Banyak  juga yang mengejek dengan berkata; kurang kerjaan, tidak ada gunanya, lucu, dan aneh kalau masih mau memberi perhatian pada kedua benda itu, bahkan tanpa ada tanggapan positif pula. Komentar-komentar tadi kiranya mencerminkan asumsi masyarakat itu sendiri terhadap keberadaan lumpeng dan kenteng. Mereka bersifat masa bodoh terhadapnya.

B.     Pembahasan
Dari hasil penelitian di atas, kita sudah mengetahui bahwa lumpang adalah..... kenteng adalah...........
Masyarakat pun bersikap masa bodoh terhadap lumpang dan kenteng. Banyak perilaku masyarakat yang ditimpakan pada kedua jenis benda peninggalan budaya tadi, diantaranya sebagai berikut:
·         digunakan sebagai tempat pembuangan sampah
·          digunakan sebagai tadah hujan
·          digunakan sebagai tambahan pondasi rumah
·         ditempatkan di emperan rumah
·         digeletakkan bersama batu-batu biasa
·         digeletakkan secara terlentang (terbuka), menjadikannya sebagai habitat nyamuk
·         dipendam di tanah samping rumah
·         menggunakannya karena belum memiliki peralatan yang lebih modern.
Ketika melakukan penelitian pun, satu hal lagi yang sempat peneliti catat yaitu perihal komentar masyarakat yang ditujukan kepada  peneliti sendiri ketika berkeliling melakukan penelitian. Banyak yang menertawakan peneliti. Banyak  juga yang mengejek dengan berkata; kurang kerjaan, tidak ada gunanya, lucu, dan aneh kalau masih mau memberi perhatian pada kedua benda itu, bahkan tanpa ada tanggapan positif pula. Komentar-komentar tadi kiranya mencerminkan asumsi masyarakat itu sendiri terhadap keberadaan lumpeng dan kenteng. Kebanyakan dari mereka memang tidak menghargai nilai budaya yang sudah ada.
Adapun faktor utama ditinggalkannya lumpang dan kenteng, tidak lain karena adanya perubahan kebudayaan seiring waktu yang terus berganti. Antara masa lalu dan sekarang sangat banyak bedanya. Teknologi dan industri sudah berkembang sangat pesat, menghasilkan kebudayaan yang berubah pula.
Sekarang tersedia berbagai peralatan, seperti blinder, magic jar, rice cooker, oven, teko lisrik, kompor gas, dan lain-lain. Peralatan tersebut menawarkan kemudahan bagi masyarakat untuk menjalankan urusan rumah tangga, seperti masak memasak. Makanan instan pun juga sudah tersedia di toko-toko terdekat. Maka, corak kehidupan yang  lama benar-benar ditinggalkan. Muncullah berbagai perilaku dan asumsi masyarakat yang tidak menghargai kebudayaan lama berikut benda peninggalannya, lumpang dan kenteng khususnya.



BAB V. PENUTUP

Zaman nyata sudah tidak bersahabat lagi dengan lumpang dan kenteng. Harusnya, fenomena ini tidak boleh dibiarkan. Mumpung sekarang kita masih dapat menemukan lumpang dan kenteng, sudah selayaknya keberadaannya itu mendapatkan perhatian lebih.
Pemerintah terkait harus lekas mengeluarkan kebijakan agar lumpang dan kenteng diselamatkan (dikonservasi). Begitu juga masyarakat luas harus menghargai dan merawat lumpang dan kenteng.














Daftar Pustaka

Û    Susilowati, Nenggih. Batu Dakon dan Lumpang pada Ceruk-Ceruk di Kenagarian Andaleh, Kabupaten lima Puluh Kota: Bentuk Adaptasi Manusia Terhadap Lingkungan. 13  Mei 2008. http://balarmedan.wordpress.com/2008/05/13/batu-dakon-dan-lumpang-pada-ceruk-ceruk-di-kenagarian-andaleh-kabupaten-lima-puluh-kota-bentuk-adaptasi-manusia-terhadap-lingkungan/. Diunduh tanggal 26 April 2011 pukul 5:54 WIB.

Û    Sartono. Lumbang Tembi Lestari di Tengah Sawah Padi. http://tembi.net/id/news/lumpang-tembi-lestari-di-tengah-sawah-padi-1347.html. Diunduh tanggal 26 April 2011 pukul 5:54 WIB.
Û    http://seni-dan-antik.tokobagus.com/furniture/lesung-lumpang-batu-835573.html. Diunduh tanggal 26 April 2011 pukul 5:54 WIB.
Û    Nasution, M. Syurbainy. Surat Tulak-Tulak. Agustus 2007. http://www.mandailingonline.com/2011/04/surat-tulak-tulak/. Diunduh tanggal 26 April 2011 pukul 5:54 WIB.
Û    http://www.kaskus.us/member.php?u=1302499. Diunduh tanggal 26 April 2011 pukul 5:54 WIB.
Û    http://palembang.tribunnews.com/view/61604/lumpang_batu_ditemukan_di_kebun_wako. Diunduh tanggal 26 April 2011 pukul 5:54 WIB.