Laman

Selasa, 04 September 2012

pendidikan seks


Kurikulum Pendidikan Seks:
 Solusi Pergaulan Remaja Saat Ini


 Penulis: AHMAD PUJIANTO 



Sahabat, bagaimana kabar kini? Westernisasi mengusir kleluhuran tradisi. Masyarakat Indonesia lain wajah: sebabnya globalisasi diboncengi demoralisasi. Masyarakat kepradah, tak tahu arah. Dimanja produk-produk tipi, diajari anarki, budaya-budaya yang maunya serba instans. Merebaklah keangkuhan sosial dan pergaulan bebas yang kini menjadi tren bagi remaja saat ini.


Pergaulan bebas sebenarnya merupakan tema pembicaraan yang basi. Akan tetapi, saat ini fenomena tersebut semakin marak terjadi. Dampaknya pun menjadi-jadi. Manakala tidak dianggapnya nilai-niuli dan norma sosial yang berlaku di masyarakat, maka kehidupan freedom diagung-agungkan, bebas tanpa batas, seenaknya. Lontang-lantung ke mana-mana: mbleyer-mbleyer, trek-trekan, ugal-ugalan, balap liar, geng motor. Laki-laki perempuan tiada dinding batasannya. Hobinya keluar malam segala.



Kalau sudah menyinggung kehidupan malam, kedalamannya kaya akan simpangan. Adanya bukan pengajian, tapi konser musik, dangdut koplo-koploan, balap liar, pesta narkoba, sampai bermalam di diskotik segala. Robohlah batasan-batasan lintas jenis kelamin. Sehingga, kepleset sedikit saja akan bernama: ZINA! Setan kan punya cara tak hingga, remaja yang sedang ketekanan fase pancaroba sangat rentan terjerumus ke dalam seks bebas tersebut. Apalagi remaja kan birahinya sedang menggebu-gebu..


Sampai-sampai, berbagai telaah penelitian memampangkan kenyataan yang miris. Bahwa lebih dari 60 % remaja Jabodetabek, sebagai tolak ukur, sudah tidak perawan lagi (data BKKBN). Berarti, lebih dari setengah remaja di kota-kota besar tersebut, rentang usia 13-18 tahun sudah merasakan hubungan seks pranikah. Bahkan, yang lebih mencengagkan lagi, hasil penelitian Iip Wijayanto yang menyimpulkan bahwa 97% mahasiswi di sebuah kota pendidikan sudah tidak perawan. Astaghfirulloh, ya Alloh...


Sudah tidak mengherankan pula, sana-sini mendapati remaja sedang pacaran, kikuk-kikukan, mulut sama mulut, meraba-raba, dan seterusnya... Astaghfirulloh... Alhasil, kartini masa kini: habis gelap terbitlah malu! Kenapa malu? Karena hamil di luar nikah. Atau bahkan sudah habis malu, sebabnya sudah menjadi kebiasaan umum!


Sudah punah sokoguru bangsa, habislah generasi penerus, tiada yang diharap-harapkan, tidak ada perubahan. Kalau sudah begini realitanya,  mau di bawa kemana Indonesia?


Hendaknya orang tua memberikan pendidikan seks pada anak-anaknya sejak dini, mengenalkan organ intim, rasa malu, mahrom dan lawan jenis, mendidik supaya menjaga pandangan mata.  Akan tetapi, yang kemudian menjadi problematika yaitu bertabrakan  dengan kesibukan banyak orang tua yang lebih mementingkan pekerjaan mereka. Kebanyakan orang tua merasa cukup dengan memenuhi kepentingan perut anaknya semata. Sedangkan urusan pendidikan, seluruhnya dilimpahkan kepada pihak sekolah, pasrah sepasrah-pasrahnya.


Oleh karena itu, pendidikan seks harus dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan sekolah. Bukan menerangkan tentang how to do,  akan tetapi lebih kepada usaha preventif supaya terpelihara kesehatan reproduksi siswa. Kurang lebih kompetensi dasarnya mencangkup masalah reproduksi, proses kelahiran, KB, perilaku menyimpang, kejahatan seks, perlindungan hukum. Bisa berdiri menjadi bidang studi sendiri atau  terkait bidang studi agama, olahraga, biologi, sosiologi, antropologi, dan BK (Nailul Umam Wibowo: 2004). Juga bisa dimasukkan di kegiatan ekstrakurikuler pramuka, olahraga, pencak silat, dan sebagainya.


Harapannya, anak dengan tegas mau menolak pergaulan bebas dan seks bebas. Dengan begitu berarti generasi muda akan  steril dari bahaya westernisasi. Generasi muda menjadi generasi yang sehat lahir dan batin. Membawa hari baru: harapan baru untuk Indonesia. MERDEKA! Allohu akbar!








REFERENSI: